Darurat Ragam Buku Bacaan Non Pelajaran Bagi Siswa di Sekolah

INDONESIASATU.CO.ID:

Kendal - Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation bekerja sama dengan Room to Read dan Provisi kembali menghibahkan buku bacaan non pelajaran kepada sekolah dan madrasah mitra di Kabupaten Kendal. Bantuan ini diberikan kepada sekolah/madrasah untuk terus konsisten menggiatkan program Budaya Baca yang telah dilatihkan dan didampingi sebelumnya.

“Dalam penguatan budaya baca perlu diperhatikan tiga isu utama, yaitu pembiasaan, keteladanan, dan ketersediaan buku. Pembiasaan dan keteladaan secara bertahap telah dilakukan sekolah dan madrasah. Program-program unggulan literasi telah mulai digalakkan. Namun, kami melihat perlu penambahan secara bertahap koleksi buku non pelajaran yang harus dibaca oleh anak-anak,” kata Koordinator PINTAR Tanoto Foundation Provinsi Jawa Tengah Dr Nurkolis MM dalam pembukaan Diskusi Pendidikan dan Media Gathering di Hotel Tirto Arum Kendal, Jumat (10/5). 

Doktor bidang manajemen pendidikan ini menjelaskan, di sekolah mitra, contohnya di SDN 1 Purworejo, rata-rata siswanya yang telah membaca 32 judul buku selama kurun waktu 4 bulan. Data ini terlihat dari jumlah judul yang di tempel di pohon baca di kelasnya. Pohon baca digunakan oleh sekolah untuk mendeteksi dan memberikan penghargaan kepada siswa. Setiap selesai membaca satu buku, siswa-siswa diminta untuk menuliskan judul yang dibacanya di daun judul, kemudian menempelkan di pohon baca. 

“Bisa dibayangkan bila semangat membaca seperti ini tidak didukung oleh suplai buku yang melimpah dan beraneka ragam. Program-program seperti 15 menit membaca buku non pelajaran, penyediaan pojok baca, taman baca, gerakan literasi sekolah dan berbagai program keteladanan akan kandas, karena semua buku telah dibaca oleh siswa. Selain itu, jumlah buku bacaan yang beredar di toko-toko juga terbatas. Sehingga sebenarnya kita sedang menghadapi darurat buku bacaan non pelajaran untuk siswa di sekolah,” kata Dr Nurkolis.

Hibah buku bacaan non pelajaran gelombang kedua ini diberikan kepada 49 sekolah/madrasah di Jawa Tengah dengan jumlah 2.940 buku. Setiap lembaga diberikan 60 buku yang berisi 20 judul. Buku-buku ini telah disusun secara berjenjang untuk memenuhi kebutuhan literasi siswa. 

Kepala SDN 1 Brangsong Siti Alfiah mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tanoto Foundation dan room to read serta Provisi. Pasalnya setelah didampingi, sekolahnya telah melakukan berbagai program budaya baca. Mulai dari  membentuk tim sukses gerakan literasi sekolah yang memiliki program perminggunya, pembiasaan budaya baca pada jam ke nol dan siswa mengisi kartu kendali literasi, internalisasi ke dalam RKAS dan melibatkan komite dalam penyusunannya. Penataan lingkungan sekolah melibatkan alumni, masyarakat, orang tua siswa dalam pembuatan taman bacaan, garansi kelas, pojok baca dan kerjasama dengan pihak usaha dalam kegiatan reading day. Terakhir juga MOU dengan wali murid untuk menambah koleksi buku non fiksi dengan program saku sanak (satu buku satu anak) setiap awal semester.

“Namun karena jumlah siswa yang banyak, kemudian koleksi buku yang disediakan di pasaran juga terbatas, kadang penyediaan buku yang beraneka ragam sulit untuk kami dapatkan. Padahal setiap hari, siswa kami dorong untuk membaca buku non bacaan. Tentu saja suplai ini akan kami butuhkan terus. Dengan tambahan suplai buku ini, akan jadi pemicu kami untuk pengembangan berbagai program budaya baca lebih lanjut,” ungkap Siti Alfiah dengan semangat. 
 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita